Seseorang yang Berkultivasi


Ada seorang kultivator (yakni seorang yang terus menerus memperbaiki dan menempa diri dengan melepas segala nafsu dan pikiran buruk dalam kehidupannya sehari-hari) yang sedang berkultivasi di dalam hutan, sangat murni, dan sangat tawakal, setiap hari ia duduk bersemadi di bawah pohon besar.

Suatu hari ketika ia sedang duduk bermeditasi, ia merasakan kepalanya pusing, lalu ia pun berdiri dan berjalan-jalan ke dalam hutan. Tibalah ia di tepi sebuah kolam bunga teratai, ia melihat bunga-bunga teratai di atas kolam sedang bermekaran, sungguh indah sekali.

Di dalam hati si kultivator ini timbullah suatu pikiran,”Wah bunga teratai ini sangat indah, jika saya petik satu tangkai dan saya letakkan di samping saat bermeditasi, menghirup bau harum dari bunga teratai ini, semangat saya pasti akan lebih baik!”

Lalu ia pun membungkukkan badannya, memetik sekuntum bunga teratai di pinggir kolam. Ketika ia hendak meninggalkan tempat itu, terdengar suara yang menggema tetapi rendah dan berat. Suara itu berkata, “Siapa itu? Beraninya mencuri bunga terataiku!”

Kultivator ini menengok sekeliling, dia tidak melihat siapa pun, terpaksa ia menengadah menatap langit dan berkata, “Siapakah Anda? Bagaimana Anda bisa mengatakan bahwa bunga-bunga teratai ini adalah milik Anda?”

“Saya adalah Dewa Kolam Teratai, bunga teratai yang ada di dalam kolam ini semua adalah milik saya. Percuma saja anda berkultivasi selama ini, anda telah mencuri bunga terataiKu. Di dalam hati anda telah muncul pikiran tamak dan tidak introspeksi diri, tidak mengkritik diri sendiri atau pun merasa malu, sebaliknya masih beraninya anda mempertanyakan kepemilikan bunga teratai ini?!”, suara dari langit itu menjawab.

Seketika di dalam lubuk hati sang kultivator tersebut timbul rasa malu yang amat mendalam, lalu ia pun bersujud menghadap langit dan berkata, “Dewa Kolam Teratai! Saya telah memahami kesalahan saya sendiri, mulai saat ini saya akan sungguh-sungguh membenahi kesalahan saya, dan tidak akan pernah lagi mengambil barang apa pun yang bukan milik saya sendiri.”

Ketika kultivator itu sedang menyesali perbuatannya itu, ada seseorang yang berjalan menghampiri kolam itu, dan bergumam, “Lihat! Bunga-bunga teratai ini bermekaran dengan segar, seharusnya saya memetiknya untuk dijual di desa, siapa tahu uang yang saya dapatkan nanti dapat menutupi kekalahan judi saya kemarin!”

Begitu selesai bergumam orang itu langsung meloncat ke dalam kolam teratai, kakinya menginjak kesana kemari dan memetik habis semua bunga teratai yang ada di dalam kolam itu. Daun teratai pun berantakan terinjak-injak olehnya, dan lumpur di dalam kolam pun teraduk-aduk hingga muncul ke permukaan.

Kemudian ia membopong seuntai besar bunga teratai dan pergi begitu saja meninggalkan kolam itu sambil tertawa terbahak-bahak.

Kultivator itu menantikan kehadiran Dewa Kolam Teratai untuk mencegahnya, menegur atau menghukum orang yang telah memetik bunga teratai tadi, tapi kolam itu tetap sunyi senyap.

Dengan penuh keraguan ia kembali menghadap langit dan bertanya, “Dewa Kolam Teratai! Saya hanya memetik sekuntum bunga teratai dengan penuh kerendahan hati, dan Dewa telah menegur saya dengan keras. Sedangkan orang yang baru saja datang itu telah memetik semua bunga teratai yang ada di kolam ini dan telah merusak kolam ini, mengapa Dewa tidak mengatakan sepatah kata pun?”

Dewa Kolam Teratai berkata, “Anda adalah seorang kultivator sejati, anda bagaikan sehelai kain putih, setitik saja noda akan terlihat sangat jelas, maka dari itu Saya memperingatkan anda, agar dapat segera membersihkan bagian yang ternoda itu, dan kembali ke kesucian semula. Orang yang tadi itu, sejatinya adalah seorang berandalan, kotor bagaikan kain pel, jika dirinya lebih dikotorkan atau dihitamkan lagi pun tidak akan jauh berbeda dengan keadaannya sekarang. Saya juga tidak akan membantunya, jadi biarlah dia sendiri yang akan menanggung semua karma jahat yang diperbuatnya, oleh sebab itu Saya bungkam seribu bahasa. Anda jangan menggerutu, anda seharusnya senang, ada kekurangan pada diri anda yang masih terlihat oleh orang lain, dan kemudian membimbing anda agar dapat mengoreksi diri, ini menandakan bahwa ‘kain’ anda ini masih putih, masih pantas untuk dicuci dan dibersihkan, hal ini sungguh patut anda syukuri.” (Wang Genhao/The Epoch Times/lin)

sumber : http://erabaru.net/kehidupan/41-cermin-kehidupan/6915-seseorang-yang-berkultivasi

Satu Tanggapan to “Seseorang yang Berkultivasi”

  1. jangan kita biarkan seseorang itu terlarut dalam hitamnya kehidupan, kita saling mengingatkan dan saling mendoakan agar kita kembali pada jalan yang lurus. jangan kita menggerutu apa lagi menghukum orang lain. karena ini adalah gejala dari penyakit hati. jadilah kesatria dalam kehidupan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: